Saturday, November 5, 2016

Dakwah wa tabligh - Nasihat tiga Hadratji Maulana Muhammad Ilyas rah.a -

Bismillahirrahmanirrahiim

Dalam suatu majelis Hadratji Maulana Muhammad Ilyas rah.a berkata, "Diantara tertib dakwah, salah satunya ialah dalam Umumi Bayan sebaiknya pembicaraan itu tegas. Dan pasa masa khususi, hendaknya dengan lemah lembut. Namun, bila dalam khususi itu pun diperlukan ishlah (perbaikan diri), maka dapat digunakan ucapan-ucapan yang tegas. Rasulullah S.a.w. pun dalam menghadapi orang-orang tertentu yang berbuat kesalahan, beliau sering mengucapkan kata-kata, "Kenapa orang-orang ini?' dan menegurnya dengan ucapan marah."

Dalam suatu majelis Hadratji Maulana Muhammad Ilyas rah.a berkata, "Sudah menjadi kebiasaan kita, yaitu merasa senang dengan ucapan-ucapan yang baik, dan kita menganggap bahwa dengan nasehat-nasehat baik tersebut, sudah cukup menunaikan kerja asal kita. Tinggalkanlah kebiasaan itu dan bekerjalah, sebagaimana disebutkan dalam syair,
    "Hai pekerja, kalian biasa bersuka ria dengan nasehat-nasehat baik,tinggalkanlah nasehat-nasehat itu gantilah dengan amal-amal baik."

Dalam suatu perbincangan, Hadratji Maulana Ilyas rah.a berkata, "Betapapun banyaknya kita mendapat taufik dari Allah S.w.t. untuk beramal baik, namun hendaknya kita tetap akhiri setiap amalan tersebut dengan istighfar. Maksudnya, dalam mengerjakan amalan sebaiknya diakhiri dengan istighfar. Yaitu, meyakini bahwa dalam mengerjakan amalan tersebut kita pasti memiliki kekurangan atau kesalahan, untuk mengganti kekurangan tersebut, maka disempurnakan dengan istighfar kepada Allah S.w.t.

Rasulullah S.a.w. pun senantiasa beristighfar setiap selesai shalat. Dalam kerja tabligh pun, hendaklah kita akhiri dengan istighfar. Sebab, sebagai seorang hamba, tentu tidak dapat menunaikan kerja ini dengan sempurna. Jadi dalam kesibukan kerja ini, banyak hal lain yang tidak dapat tertunaikan. Dan untuk menyempurnakan semuanya itu, hendaklah setiap akhir amalan baik, diakhiri dengan istighfar."

Niat amal dan sampaikan


Tuesday, November 1, 2016

Dakwah wa tabligh - Nasihat tiga Hadratji Maulana Muhammad Ilyar rah.a -

Bismillahirrahmanirrahiim

Hadratji Maulana Muhammad Ilyas rah.a berkata, "Kemanapun orang-orang lama pergi hendaknya ia selalu berusaha hadir dan berkhidmat kepada alim ulama yang hak dan orang-orang sholeh. Namun kehadiran ini hanya untuk mengambil manfaat.
Jangan kita mendatangi ulama untuk mendakwahinya secara langsung. Alim ulama itu telah menyibukkan diri dalam urusan agama, dan tentu lebih paham tentang agama dan mereka berpengalaman atasnya. Dan kalian tidak akan dapat memahamkan mereka, yaitu tidak dapat meyakinkan mereka bahwa kerja agama ini lebih penting dan lebih berguna daripada kesibkkan lain.

Hasilnya, mereka tidak akan mendengarkan perkataan kalian. Dan bila mereka sekali saja mengatakan, "Tidak; maka kata 'tidak' itu akan sulit dirubah menjadi 'ya'

Dan akibat buruk lainnya juga dapat terjadi, yaitu masyarakat awam pun menolak mendengarkan ajakan kita. Dan ada kemungkinan timbul keragu-raguan pada diri kita. Untuk itu, ketika mengunjungi ulama, hendaknya dengan niat untuk mengambil manfaat saja, walaupun demikian, hendaknya kita tetap berusaha atas lingkungan di sekitar ulama tersebut. Dan lebih menjaga tertib-tertib dakwah dengan benar. Dengan ini ada harapan untuk sampai pada mereka, sehingga mereka akan menerima dan akan terpanggil bertawajjuh atas kerja ini. Selanjutnya, jika setelah itu mereka sendiri yang menyukai kalian dan kerja ini. Dan hendaklah kata-kata diucapkan dengan penuh kesopanan dan dengan kata-kata memuliakan."

Hadratji Maulana Muhammad Ilyas rah.a. berkata, "Apabila kita menjumpai alim ulama atau orang-orang sholeh dimana saja, yang tidak mempedulikan dan tidak menyukai kerja ini, maka janganlah kita bersangka buruk kepada mereka. Bahkan hendaklah kita selalu memahami, bahwa hakekat kerja ini belum terbuka seluruhnya terhadap mereka. Dan hendaklah kita memahami bahwa mereka adalah pelayan khusus bagi agama ini, sehingga syetan lebih memusuhi mereka (syetan lebih suka mencuri di tempat-tempat yang terdapat kekayaan). Selain itu perlu dipahami bahwa orang-orang yang sibuk dalam urusan dunia yang hina inipun, akan merasa berat untuk meninggalkannya dan menyambut ajakan agama, apalagi para ahli agama. Dengan kesibukan mereka yang tinggi, bagaimana mereka akan mudah meninggalkannya? Orang-orang 'arif berkata, "Hijab-hijab cahaya, lebih tebal daripada hijab kegelapan."

Niat sampaikan